UNDIP Bahas Toxic Masculinity dan Quarter Life Crisis pada Pria dalam Seminar Inspiratif

SEMARANG, konselingmahasiswa.undip.ac.id – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Unit Pelaksana Teknis Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin, dan Etika Mahasiswa (UPT LKDPDEM) menggelar seminar bertajuk “Strong Men, Silent Pain: Membedah Toxic Masculinity dan Quarter Life Crisis pada Pria”. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Gedung A Lantai 3 FISIP UNDIP, Tembalang, pada Kamis siang 4 September 2025, pukul 13.00 WIB.

Seminar ini menghadirkan dua pembicara kompeten di bidangnya, yakni Prof. Dr. nat. tech. Siswo Sumardiono, S.T., M.T., serta Hasan Fathur Rozi, S.Psi., M.Psi., yang membagikan wawasan seputar kesehatan mental, krisis identitas pria muda, dan tekanan sosial akibat toxic masculinity.

 

                                                                 

 

Sambutan: Emosi adalah Bagian dari Kemanusiaan

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., turut memberikan sambutan dalam kegiatan ini. Ia menyoroti stigma yang masih melekat pada laki-laki, seperti anggapan bahwa pria tidak boleh menangis atau mengeluh.

“Banyak laki-laki diajarkan untuk menahan emosi, tidak boleh menangis, atau curhat. Padahal, semua itu adalah ekspresi alami manusia,” ungkapnya.

Beliau juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan layanan UPT LKDPDEM sebagai ruang aman untuk bercerita, berkonsultasi, dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi. “Unit ini kami dirikan untuk melayani kebutuhan mahasiswa, tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam hal psikologis dan sosial,” tambahnya.

                                                                   

 Paparan Materi: Tantangan Pria di Usia Seperempat Abad

Dalam presentasinya yang berjudul “A Man’s Journey: Perjalanan Menemukan Kekuatan dan Melawan Quarter Life Crisis pada Pria”, Prof. Siswo memaparkan bahwa 75% pria berusia 25–30 tahun mengalami quarter life crisis. Ia menjelaskan bahwa tekanan ini bisa muncul dari dalam diri (seperti stres atau tidak konsisten pada tujuan hidup) maupun dari luar (minimnya dukungan sosial).

“Yang perlu dilakukan adalah mencari support system, seperti teman yang bisa memahami dan satu frekuensi dengan kita,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa definisi pria kuat bukanlah mereka yang menekan emosinya, melainkan mereka yang mempersiapkan diri menghadapi tantangan hidup dengan tekad dan ketahanan, sembari tetap membiarkan diri merasakan dan mengekspresikan emosi.

Mengurai Stigma: Bukan Lemah, Tapi Manusia

Sementara itu, Hasan Fathur Rozi dalam materinya “Not Weak, Just Human: Memahami dan Membedah Stigma Toxic Masculinity”, menjelaskan bahwa toxic masculinity adalah hasil dari pengagungan peran pria secara berlebihan dan kaku, yang sering kali berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

“Maskulinitas yang berlebihan bisa membuat pria menolak untuk takut, sedih, atau merawat diri sendiri. Padahal, rasa takut itu bukan kelemahan—itu adalah sinyal dari tubuh untuk bersiap menghadapi bahaya,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya memahami emosi sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup, bukan sesuatu yang harus disangkal.

Mendorong Kesadaran Emosional di Kalangan Mahasiswa

Seminar ini tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga mengajak peserta untuk lebih reflektif terhadap pengalaman pribadi mereka sebagai individu, khususnya laki-laki yang sering dibebani ekspektasi sosial tertentu.

                                                         

Salah satu perserta yang hadir dari Ilmu Perpustakaan Faculties Ilmu angkatan 2020 bernama Rafi menjelaskan bahwa dirinya bukanlah mahasiswa yang suka hadir seminar namun dia melihat seminar ini sangat insightful karena jarang yang mengangkat tema Masculinity. “Harapan saya untuk UPT LKDPDEM Adalah bisa membuat seminar masculinity tapi volume II, buat Feminisme juga boleh”, ujar Rafi lagi.

Diskusi, yang dimoderatori oleh Sdr. Habel Boni Facius Panjaitan, S.Psi., ditutup dengan kesimpulan bahwa mahasiswa UNDIP, baik laki-laki maupun perempuan, dapat membangun kesadaran akan pentingnya mengekspresikan emosi secara sehat, serta memahami bahwa menjadi kuat tidak berarti harus selalu terlihat tegar. (Jenn)